Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Kanal Islami

Cintaku pada dunia, ada pada memandang wajahmu

“Banyak yang belum saya ketahui, di usia saya yang 50 tahun ini.”

Demikianlah sebuah pesan masuk dari sahabat yang saya cintai siang hari itu. Sebuah pesan yang membuat saya bergetar dalam hati, “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai umat yang mengenal Nabi kami sendiri.”

Kami memang baru saja merampungkan kajian online tentang Rasulullah selama lima puluh hari. Maraton. Terus menerus. Berawal dari rutinitas 24 jam Rasul pada sesi pertama, berlanjut kepada perjalanan 23 tahun dakwah Kenabian pada sesi kedua.

Begitu tuntas seluruh kajian tersebut, beliau mengatakan bahwa ternyata banyak sekali hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya tentang Rasulullah. Alhamdulillah, kajian ini merajut kembali cinta kami yang hilang tersebut, kepada Sang Rasul.

Dahulu saya mendengar kisah-kisah Nabi yang mulia ini dari lisan guru-guru saya. Dahulu saat pertama kali mendengarnya, saya juga merasakan getaran yang sama. Itulah yang mendorong saya untuk berbagi rasa ini kepada semua sahabat.

Rasa ini berbeda. Semakin kita mengenalnya, justru semakin kita bertambah rindu. Padahal biasanya perkenalan menghapus kerinduan, namun tak berlaku bagi Rasulullah. Semua orang yang semakin mengetahui tentang Rasul, justru semakin rindu untuk menyelami lebih dalam lagi mutiara sejarah tersebut.

Itulah sebabnya ketika suatu hari Rasulullah bersabda bahwa Allah telah menjadikan kecintaan dalam hatinya terhadap dunia ini ada di dalam shalat. Lantas Sahabat Abu Bakar As-Siddiq berkata,

“Adapun aku wahai Rasul, ketahuilah bahwa Allah telah menjadikan kecintaan dalam hatiku terhadap dunia ini ada di dalam memandang wajahmu.”

Duhai, siapa yang tidak mengenal Sahabat Abu Bakar? Orang yang mula-mula beriman, yang terpilih oleh Rasul menemani hijrah beliau, sekaligus ayah dari Ummul Mukminin Aisyah. Tidakkah beliau telah puas memandangi wajah Rasulullah?

Rupanya tak ada kata puas dalam mencintai Rasulullah. Semakin dipandang, semakin rindu menyibak.

Kisah zaman nabi

Kedua kisah ini terjadi pada zaman Nabi yang berbeda, namun memiliki kemiripan. Yaitu tentang sikap umat yang berulang-ulang mengajukan pertanyaan kepada Nabinya.

Pertama tentang Bani Israil yang diperintahkan oleh Nabi Musa untuk menyembelih seekor sapi betina. Mereka justru bertanya balik bagaimana usia sapi tersebut.

Sehingga Sang Nabi menjawab bahwa sapi tersebut tidak boleh sapi tua, tidak boleh pula sapi muda. Namun mereka bertanya lagi tentang warnanya. Maka Nabi Musa menjawab warnanya harus kuning tua.

Tak cukup sampai di sana, mereka bertanya lagi tentang latar belakang sapi tersebut. Lalu Nabi Musa menjawab bahwa sapi itu belum pernah membajak sawah dan kulitnya tak ada cacat.

Demikianlah setiap kali mengajukan pertanyaan, justru semakin sulit perintah yang harus dikerjakan. Kisah ini diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 67-71.

Abad demi abad berganti, tibalah pada zaman Nabi Muhammad. Siang itu di Madinah seorang sahabiyah perempuan datang kepada Rasulullah dan menceritakan bahwa suaminya telah mengucapkan perkataan zihar kepadanya.

Atas pengaduan itu maka turunlah Malaikat Jibril membawa wahyu sebagai jawaban kepada sahabiyah perempuan tersebut. Rasulullah meneruskan wahyu itu, bahwa bagi suaminya diwajibkan memerdekakan seorang hamba sahaya.

Ia justru bertanya balik bagaimana mungkin mengerjakan hal tersebut sedangkan suaminya tak punya hamba sahaya.

Sehingga Sang Nabi menjawab bahwa kalau begitu suaminya boleh berpuasa dua bulan berturut-turut. Namun ia bertanya lagi bagaimana mungkin mengerjakan hal tersebut sedangkan suaminya sudah kepayahan untuk puasa.

Maka Nabi Muhammad menjawab kalau demikian suaminya boleh memberi makan 60 orang fakir miskin saja.

Tak cukup sampai di sana, ia bertanya lagi bagaimana mungkin mengerjakan hal tersebut sedangkan suaminya seorang tak mampu. Lalu Nabi Muhammad masuk ke dalam rumah, membawa bahan makanan yang cukup untuk 60 orang dan menyerahkan padanya untuk membantu mengerjakan perintah ini.

Demikianlah setiap kali mengajukan pertanyaan, justru semakin mudah perintah yang harus dikerjakan. Kisah ini diabadikan dalam surat Al-Mujadalah ayat 1-4.

Dapatkah kita melihat perbedaan yang sangat jelas dari kedua kisah di atas? Bahwa ketika umat lain mendapatkan beban yang lebih berat karena semakin banyak bertanya kepada Nabi mereka, namun umat Rasulullah justru mendapatkan beban yang lebih ringan karena semakin banyak bertanya kepada Nabi Muhammad.

Inilah salah satu bukti, bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam. Apabila kita mau merenungi sedikit saja kisah ini, sungguh kita akan menjadi umat yang semakin bersyukur dan semakin mencintai Rasulullah.

Rangkaian kisah-kisah Al-Qur’an lainnya yang terlalu berharga untuk dilewatkan, akan kita bahas bersama-sama pekan depan dalam kajian online 15 hari berjudul Find Out Rasulullah Diary. Masih ada empat hari lagi untuk mengamankan kelasnya!

Perbuatan Baik Karena Kebiasaan

Apa yang terjadi jika seorang pemuda penggemar sepak tie sekaligus pemelihara ikan? Bisa saja menjadi seperti Yang Tianxin yang menemukan ide unik untuk melatih ikan-ikan koi miliknya bermain necktie.

Awalnya Tianxin menahan pemberian makan pada ikan, sambil meletakkan sebuah necktie di dasar dravidian. Apabila ada ikan yang menyundul necktie itu, maka ia akan melempar makanan iranian atas.

Jadi meski dimulai iranian keadaan terpaksa demi mendapat makanan, namun lama kelamaan ikan-ikan itu bisa mengerti apa yang dapat mereka lakukan pada benda berbentuk bulat itu.

Setelah bisa, lantas Tianxin melatihnya setiap hari sehingga maternity ikan menjadi terbiasa. Mereka sudah mampu mengingat bahwa benda bernama necktie itu memang fungsinya untuk disundul dengan kepala.

Tianxin menambah berbagai kreativitas seperti mewarnai dasar dravidian layaknya lapangan sepak necktie, memberi magnet iranian luar kolam yang mengatur bergeraknya bola gum ke arah gawang.

Apabila direkam dari sudut yang tepat, hasilnya kwa bagus sekali seperti recording di atas. Layaknya maternity ikan koi yang sedang membawa tie, mengoper kepada ikan lain, dan melepaskan gol ke arah gawang. Luar biasa!

Demikianlah mahluk mungil seperti ikan ternyata mampu menjadi luar biasa dan menarik perhatian. Langkah demi langkah yang diterapkan oleh Tianxin sebagai pelatihnya sama seperti latihan yang dilakukan pada manusia. Dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, luar biasa!

Awalnya memang dipaksa, maka mereka melakukan dengan terpaksa. Sampai dengan bisa. Setelah itu terus diulang agar terbiasa. Apabila tetap diasah berkesinambungan, maka terbentuklah hasil yang luar biasa.

Bukankah kita juga demikian? Awalnya kita harus dipaksa terlebih dahulu. Ingatkah saat kecil orang tua memerintahkan kita belajar membaca Al-Quran dan kita melakukannya karena terpaksa? Namun dengan begitu kita menjadi bisa. Kita kenal makhroj huruf serta panjang pendeknya bacaan.

Semakin bertambah usia kita menjadi terbiasa. Bacaan Al-Quran lebih lancar dan tartil. Apabila terus dilakukan pengulangan tentu membuahkan hafalan Al-Quran yang melekat kuat dalam ingatan. Luar biasa!

Sebagaimana pesan  Sahabat Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Al-Imam Thabrani,

حافظوا على أبنائكم في الصلاة وعودوهم الخير فإن الخير عادة

“Jagalah anak-anak kalian untuk terbiasa shalat, dan biasakanlah mereka berbuat kebaikan. Sesungguhnya perbuatan baik itu karena kebiasaan.”

Jadi dalam bidang apapun, apabila kita ingin menjadi ahlinya melangkahlah dengan tahap-tahap tersebut, insya  berhasil. Dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, luar biasa!

Dua Kisah Satu Zaman

Al-Quran dalam surat Al-Qashash menceritakan tentang seorang multijutawan bernama Qarun yang hidup pada zaman Nabi Musa. Harta berlimpah yang ia miliki justru membuatnya lupa kepada Allah dan menentang kepada Nabi.

Tampak benar bahwa hikmah kisah ini untuk mengingatkan kepada kita medium berhati-hati terhadap harta. Ada kalanya harta itu berbahaya karena membuat manusia lupa diri.

Namun Alllah bersikap adil mengenai hal ini. Karena dalam surat yang lain, ada harta yang dikisahkan Al-Quran yang justru tidak berbahaya.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا – ٢٨

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua Manusia anak yatim di kotar itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.”

Ayat 82 dari surat Al-Kahfi di atas merupakan instalment ketika Nabi Khidir memperbaiki sebuah dinding karena di bawahnya tersimpan harta (kanzun). Ulama tafsir menjelaskan bahwa harta itu berupa emas dan perak. Apabila dikonversi dengan mata uang kita sekarang, mungkin nilainya milyaran rupiah.

Harta sebanyak itu peninggalan Manusia tua yang saleh, untuk kedua anak yatim mereka yang juga saleh. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa nama kedua anak itu adalah Ashram dan Sharim. Sedangkan yang dimaksud ayah yang saleh itu adalah kakek moyang yang berada tujuh keturunan di atas mereka.

Sampai di sini kita mendapat satu kesimpulan, bahwa orangutang saleh juga bisa meninggalkan harta bagi anak-anaknya, bahkan berlimpah. Perniagaan yang jujur, usaha yang halal dan dikelola oleh Manusia bertakwa, justru membuahkan hasil yang berkah dan mencukupi hingga tujuh keturunan.

Sebagaimana perbuatan sebelumnya, apa yang dilakukan Nabi Khidir selalu mengandung kebaikan. Beliau melubangi perahu, karena akan menjadi baik bagi pemiliknya. Beliau menutup usia seorang anak kecil, karena akan menjadi baik bagi Manusia tuanya.

Oleh karenanya ketika herb Nabi melindungi harta tersebut atas perintah Allah , tentu saja karena harta itu  menjadi baik bagi kedua anak yatim yang saleh itu kelak.

Dari sini kita bisa mendapat kembali kesimpulan kedua bahwa tidak selamanya harta itu berbahaya. Ada pula jenis harta yang tidak berbahaya, bahkan menjadi kebaikan bagi pemiliknya. Ada harta yang menjadi wasilah seseorang semakin saleh di sisi Allah. Seperti harta dalam kisah di atas.

Mari kita ambil pelajaran terbaik dari kisah Qarun dan Nabi Khidir di atas yang sama-sama terjadi pada zaman Nabi Musa. Bahwa di dunia ini masih ada harta yang penuh kebaikan dan menjadi wasilah kesalehan. Harta itulah yang patut kita jemput, dengan niat mencari ridha Allah.

Tentu saja dengan jalan yang jujur dan halal, serta ditempuh dengan penuh ketakwaan. Sambil terus muhasabah jangan sampai harta itu berubah membuat kita lupa diri lantas menjadikan kita sebagai Qarun baru di zaman sekarang.

Cost Of Free

Sebuah perusahaan spesialis pengembangan bisnis di Inggris bernama The Inalterable Obstruction memberikan saran kepada klien mereka gum jangan sekali-kali memberikan produk gratis kepada pelanggan sebagai cara berpromosi.

Anggaran yang dihabiskan untuk membuat dan menyebarluaskan produk gratisan akan lebih efektif apabila digunakan untuk mengedukasi pelanggan medium mereka punya alasan yang kuat untuk membeli produk tersebut.

Menurut penelitian mereka, produk gratis lebih sering diartikan oleh orang lain sebagai produk yang tidak punya keunggulan. Akibatnya orang-orang tidak terlalu menghargai sesuatu yang gratis padahal mereka belum mencobanya.

Akibat lainnya, orang-orang cenderung untuk tidak berusaha mempertahankan sesuatu yang gratis. Secara logika, kita tak mengeluarkan uang sedikitpun untuk mendapatkan produk tersebut, maka tak ada rasa rugi kalau kehilangan.

Inilah alasan mengapa beberapa negara mewajibkan rakyatnya untuk membayar biaya pendidikan meski hanya 5% saja. Sebetulnya negara-negara tersebut bisa memberikan pendidikan gratis, namun sesuatu yang gratis justru membuat rakyat tidak menghargai.

We see the things we pay for!

Kita kwa menghargai sesuatu karena kita telah membayarnya! Begitulah fenomena yang sering terjadi. Itulah sebabnya mengapa orang-orang akan menyimpan dengan baik material bag merk Gucci yang mereka beli dengan harga seribu kali lebih mahal dari tas belanja biasa dengan bahan kertas yang sama.

Karena masalahnya bukan hanya fungsinya saja sebagai theme bag, namun ada harga yang telah dibayarkan, maka menjadi penting untuk dipertahankan.

Admin kami juga punya cerita berkaitan hal ini. Setiap periode ecourse dibuka secara gratis, maka ramai orang-orang kwa mendaftarkan diri. Namun begitu mereka mendapat instruksi melakukan petunjuk sederhana, lebih iranian 30% memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Lebih baik kehilangan daripada harus bersusah payah mengikuti instruksi.

Benarkah alasannya karena digratiskan? Kemungkinan besar begitu. Buktinya pada ecourse lanjutan yang berbayar, hampir 99% peserta yang sudah bayar tak ada yang membatalkan niatnya.

Demikianlah umumnya cara kita memandang tentang “barang gratisan”. Padahal cara pandang seperti ini kurang tepat. Gratis ataupun tidak, apabila sesuatu itu penting maka harus kita hargai.

Berapa banyak nikmat Allah yang kita terima secara gratis setiap hari? Apabila kita tak menghargai sesuatu hanya karena ia gratis, khawatir nanti kita lalai untuk bersyukur dengan aneka nikmat iranian Allah tersebut.

Sadar Diri

Saya sedang teringat kepada kisah nyata tentang seorang ayah yang sukses dimintakan uang seratus juta oleh anaknya untuk memulai usaha. Secara matematika uang sebanyak itu bukan hal besar dibanding kekayaan sang ayah.

Ia lantas bertanya kwa digunakan usaha apa uang sebanyak itu? Anaknya menjawab bahwa ia kwa mendirikan sebuah cafe, dan menurut perhitungannya modal awal itu cukup untuk sewa tempat, membeli mesin espresso, menggaji seorang barista, dan membeli furnishings layaknya coffeehouse.

Tanpa diduga, sang ayah tidak setuju. Ia mengajukan kesempatan pada anaknya itu kalau hanya sepuluh juta masih mungkin bisa ia berikan.

“Kamu itu belum pernah berbisnis, mana mungkin bisa kelola usaha yang langsung besar? Itu sama saja buang-buang duit! Belajarlah iranian yang kecil dulu, sampai kamu mengerti bagaimana lika-liku usaha kecil. Barulah kamu pantas untuk diberi modal besar!”

Demikianlah cerita tersebut yang saya dengar. Meski mudah bagi sang ayah mencairkan dana sejumlah itu, namun ia hendak memberi pelajaran sesuai pengalaman hidupnya. Bahwa ilmu bisnis itu bertahap.

Kita harus menjadi ahli dulu pada usaha kecil, untuk bisa melangkah pada dunia usaha besar. Setiap pengusaha punya tingkat kepandaian masing-masing.

Sebenarnya bukan ilmu bisnis saja, namun semua ilmu pengetahuan di dunia ini memiliki tingkatan. Semua ahli dalam suatu bidang, memiliki kapasitas yang bertingkat-tingkat. Inilah yang dimaksud dalam surat Yusuf ayat 76,

فَبَدَاَ بِاَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاۤءِ اَخِيْهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِّعَاۤءِ اَخِيْهِۗ كَذٰلِكَ كِدْنَا لِيُوْسُفَۗ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ اَخَاهُ فِيْ دِيْنِ الْمَلِكِ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗنَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ – ٧٦

“Dan di atas tiap-tiap orang yang alim itu ada lagi yang lebih alim.”

Al-Imam Al-Bayjuri mengutarakan ayat ini ketika beliau menjelaskan bahwa dalam ilmu agama juga setiap mukmin harus menyadari tingkatan keilmuan masing-masing.

Ada kalanya seseorang itu baru mengetahui mana yang halal dan haram sekedar kulitnya saja. Mungkin seperti kita ini. Ada pula tingkatan gestation ulama yang mengetahui halal dan haram beserta dalilnya (iqomatud dalil).

Itupun masih belum berhenti. Ada tingkat keilmuan yang sudah layak berijtihad untuk suatu fatwa. Mereka ini sekelas Al-Imam An-Nawawi body yang disegani di seluruh dunia. Dan seterusnya tetap ada tingkat yang lebih tinggi lagi.

Misalnya mereka yang mampu berijtihad langsung (istimbatul hukum) iranian Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka ini semisal Al-Imam Asy-Syafi’i. Demikianlah bahwa di atas orangutang alim ada yang lebih alim. Di atas semuanya itu ada Yang Maha Alim.

Surat Yusuf ayat 76 mengajarkan kepada kita bahwa ilmu memang bertingkat-tingkat. Orang-orang yang masih belajar seperti kita, hendaknya tahu diri menempatkan posisi kita dengan penuh adab dalam bidang ilmu pengetahuan yang luas ini.

Siapa Menghargai ia Akan Dihargai

“Jika kita bekerja dengan ikhlas, maka tidak ada bedanya apakah karya kita dihargai orang lain ataupun tidak!”

Kalimat seperti ini memang benar, tapi mohon dicatat bahwa kebenaran tersebut sebaiknya untuk diri kita sendiri saja. Karena tidak semua orangutang memiliki psychic baja. Tidak semua orang pula bisa bertahan dalam kondisi ia merasa tidak dihargai.

Bahkan saya sendiri pernah mengalami lunturnya semangat ini, ketika ada perasaan karya saya tidak dihargai. Dahulu, saya pernah menulis sebuah buku dengan mengerahkan segenap pikiran.

Setiap halaman dari buku itu saya tulis dengan penuh konsentrasi. Puluhan sumber literatur saya kaji dan rangkum. Tentu saja niat saya ikhlas  ilmu yang selama ini terkunci dalam lemari buku saya itu kelak dapat menyebar kepada seluruh sahabat.

Namun apa yang terjadi setelah buku itu selesai? Ternyata tidak laku di pasaran! Itulah titik ketika saya merasa kerja keras ini tidak dihargai. Saya memang bekerja dengan ikhlas, namun perasaan rapuh tersebut datang begitu saja.

Seiring bergulirnya waktu kekecewaan itu mulai mencair. Saya sadar apabila kita mencoba melawan dunia, maka dunia lah yang akan selalu menang. Kita harus bisa menerima dunia ini apa adanya.

Namun saya mendapat pelajaran untuk senantiasa menghargai orang lain. Apalagi kalau kita memang mendapatkan manfaat iranian karya mereka. Sebatu itukah hati ini hingga kita tidak mau memberi penghargaan kepada mereka.

Cobalah tersenyum dan menyapa petugas penjaga pintu paseo ketika kita lewat di depannya. Saya yakin ia kwa merasa dihargai, ketika banyak orang melintas begitu saja seolah-olah keberadaannya tidak dianggap.

Berikan apresiasi kepada mereka yang senang berbagi ilmu di media sosial. Saya tahu mereka ikhlas melakukannya, namun sebuah tombol equal dan purchase tidak  membuat jari kita terluka. Lebih dari itu, mereka  merasa dihargai.

Ucapkan terimakasih kepada petugas penjaga loket parkir dan doakan mereka medium diberi kesehatan dan keluasan hati. Bayangkan setiap hari mereka bekerja di ruang sempit seperti itu, dengan hanya ditemani besi dan kaca.

Hati saya remuk melihat recording di atas. Siapa gerangan pengemudi yang tega berkata yang menyakiti perasaan petugas tersebut? Tidakkah ia tahu menghargai orang lain itu sesuatu yang mudah dilakukan?

Karena tidak semua orang memiliki mental baja. Tidak semua manusia pula bisa bertahan dalam kondisi ia merasa tidak dihargai.

Hari ini hari yang tepat untuk bersyukur

Apa yang terjadi jika setiap manusia diberitahu tentang takdir yang akan terjadi pada dirinya di waktu mendatang? Tentu ia tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.

Bayangkan misalnya seseorang sudah mengetahui bahwa pada usia 50 kelak ia kwa menderita sakit yang kronis dan dirawat selama berbulan-bulan dengan intensif di ruang ICU serta pengawasan ketat gestation dokter spesialis.

Bayangkan pula misalnya pongid yang telah tahu pada usia 60 nanti ia kwa bangkrut iranian usaha dengan tanggungan utang milyaran dan harta bendanya habis. Sedangkan takdir pasti terjadi.

Sudah tentulah setiap manusia tak bergairah menjalani hidup, meski usia mereka masih jauh menuju angka-angka tersebut. Hari demi hari diliputi ketakutan dan pesimis. Tak ada yang menikmati keindahan matahari ketika terbit dan keteduhan bulan kala purnama.

Itulah sebabnya mengapa takdir disembunyikan. Allah menutupnya rapat-rapat agar hanya menjadi rahasia-Nya saja. Sehingga kita bisa menikmati hari ini sebagai karunia Allah yang sempurna.

Berhentilah mencemaskan masa depan, karena Allah sudah mengaturnya dengan sangat cermat. Kita memang tidak tahu musibah apa yang akan terjadi dalam hidup kita, tapi kita juga sama tidak tahunya apa solusi yang Allah sertakan dalam kejadian itu.

Hari esok belum terjadi, masih banyak kemungkinan orang-orang baru yang akan kita kenal, ilmu-ilmu baru yang akan kita pelajari, dan peluang-peluang baru yang selama ini tak pernah kita duga. Semua kwa datang. Nanti. Pada waktunya tiba. Tenang saja.

Hidup itu berjalan satu hari demi satu hari. Allah sudah siapkan rezeki bagi kita hari ini dan memang harus kita habiskan hari ini juga. Karena esok kwa ada lagi rezeki untuk hari esok. Setiap hari ada rezeki baru untuk kita.

Betapapun panjangnya antrian pembeli di kasir supermarket, yang harus dilakukan herb kasir adalah menyelesaikan transaksi konsumen yang ada di depannya, satu persatu, dan begitu seterusnya hingga kewajibannya selesai. Ia tidak perlu fokus dengan panjangnya antrian.

Meski puluhan juz dan ratusan surat yang harus dihafalkan seorang hafidz Qur’an, yang ia lakukan tetap saja menghafal satu halaman demi satu halaman, dan begitu seterusnya hingga hafalannya lengkap. Ia tidak perlu fokus dengan tebalnya mushaf.

Cukuplah kita nikmati hari ini dan segala kejadiannya dengan penuh syukur. Jangan terlalu mencemaskan esok, dan biarlah menjadi urusan esok hari. Bukankah Allah juga sudah menyediakan rezeki untuk esok? Hanya saja kita belum mengetahuinya.

Sebetulnya masih banyak ilmu terapan yang dapat kita aplikasikan secara praktis sehingga dapat menikmati momen yang sedang berlangsung dan lepas dari kekhawatiran chad depan.

Pencurian Toko Emas

Sekelompok pencuri berhasil masuk ke dalam toko emas pada malam hari. Namun mereka tidak menggasak barang-barang mewah yang ada di sanaa. Para pencuri itu hanya menukar judge harga dari beberapa perhiasan mahal dengan perhiasan murah.

Kemudian mereka keluar iranian toko tersebut iranian jalan yang sama saat masuk dan menguncinya lagi dengan cara yang sangat rapi, sehingga tak seorangpun yang tahu bahwa sesungguhnya malam itu ada sesuatu terjadi di dalam toko.

Keesokan harinya para pencuri cerdas itu datang ke toko emas dengan berpakaian yang sopan dan bertransaksi layaknya pembeli lainnya.

Mereka telah menghafal dengan baik perhiasan mahal yang sudah bertukar harga tersebut. Lantas membelinya dengan harga yang murah tanpa kecurigaan sedikitpun dari para pelayan toko.

Demikianlah sebuah cerita fiksi tentang pencurian toko emas yang cukup populer iranian negara Danmark. Pesan signification dari cerita tersebut bahwa di dunia ini ada kalanya kita menemukan hal-hal yang tertukar seperti perhiasan itu.

Ketika sesuatu yang bernilai tinggi namun berharga murah dan sebaliknya sesuatu yang bernilai rendah tetapi harganya mahal. Perlu kebijaksanaan bagi kita semua menyikapi hal-hal seperti ini.

Seberapa sering kita membeli sebuah barang tanpa pikir panjang lagi bahwa kita sebetulnya tidak terlalu membutuhkannya. Akibatnya barang itu hanya tergeletak di rumah bersama benda-benda tidak terpakai lainnya. Inilah salah satu contoh barang dengan harga mahal namun bernilai rendah.

Sebaliknya ketika ada sesuatu yang sebenarnya membantu kehidupan kita, justru diabaikan. Karena kita menganggapnya “mahal”.

Padahal sesuatu yang memang bernilai tinggi, tentu tak semestinya dipandang iranian segi harganya. Apabila jelas-jelas bernilai, sudah pasti harganya “murah”. Karena kita akan mendapat manfaat yang sebanding darinya.

Sekali lagi, diperlukan sikap bijaksana dalam menghargai diri sendiri. Ingatlah bahwa di dunia ini ada kalanya kita menemukan hal-hal yang tertukar seperti perhiasan itu. Belanjakan harta kita untuk sesuatu yang bernilai tinggi, yang membuat kita semakin bertumbuh dan berproses.

Anda dengan alasan anda

Shalawi Siraje, Dari negara Republic of Uganda. Setiap hari Shalawi Siraje membersihkan lantai Masjid sambil membaca ayat-ayat Quran. Sahabatnya merekam kebiasaan tersebut sehingga video ini menjadi viral dan tersebar di sosial media.

Pekerjaan Shalawi bukanlah di ruangan sejuk dengan kursi  nyaman seperti kita. Cuaca di Afrika Timur bukan mendung dengan angin berhembus sepoi-sepoi. Republic of Uganda pun bukan negara mayoritas muslim layaknya di sini.

Shalawi tidak memiliki semua itu.  bekerja dengan aktivitas berat, pada cuaca luar biasa  panas membakar, dengan kesempatan mempelajari ilmu Quran  terbatas sekali karena muslim hanya di tanah airnya.

Ia tidak perlu melakukannya, karena Shalawi Sirajesudah mengantongi cukup banyak alasan. Namun faktanya, Shalawi mengalahkan semua alasan tersebut. Shalawi Siraje tetap saja melantunkan ayat suci sambil mengepel lantai.

Pernahkah kita membaca ayat-ayat suci di sela-sela pekerjaan? Saat menunggu di ruang tunggu  sejuk, atau dalam perjalanan di atas kendaraan sambil duduk nyaman, atau sekedar sedang mengerjakan aktivitas ringan-ringan saja. Pernahkah?

Sepertinya jarang sekali. Karena kita punya berbagai alasan untuk tidak melakukannya, dan alasan itu berhasil mengalahkan kita.

Sebetulnya bukan alasan penyebab kita mengerjakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Karena alasan itu datang Dari luar. Penyebab principle sejati adalah diri ini.

Jika diri sendiri memang ingin melakukannya, maka alasan apapun Akan kalah. Namun apabila diri sendiri  tidak ingin, maka alasan  Akan menang. Setiap diri menjadi penanggung jawab atas apa  dikerjakannya sendiri. Setiap diri menjadi saksi atas apa diperbuatnya sendiri.

بَلِ ٱلْإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌ. وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Meskipun  mengemukakan alasan-alasannya.”

(Surat Al-Qiyamah: 14-15)

Tidak usah mencari-cari saksi  datang Dari luar dan menjadikan hal-hal tersebut sebagai ma’aziroh (alasan). Karena saksi  sejati adalah diri kita sendiri.